detikcom - Jakarta, Sampah
seringkali disia-siakan sebagai barang
kotor yang tak berguna. Padahal
sampah yang tidak bernilai itu bisa
menjadi uang dengan cara
ditukarkan di bank sampah seperti
yang didirikan Nanang Suwardi.
Bank sampah yang didirikan Nanang
ini berada di Kampung Beting Indah
Jl. Beting Indah No.2 RT 5/9
Kelurahan Semper Barat Kecamatan
Cilincing Jakarta.
Bank sampah ini bekerja layaknya
seperti bank yang melakukan simpan
pinjam, setoran, penarikan dan
tabungan. Semua transaksi itu bisa
dilakukan asal ada sampahnya.
Di bank sampah ini, masyarakat bisa
menukar sampah rumah tangga atau
sampah lain dengan uang.
Gambarannya seperti ini, masyarakat
datang membawa sampah ke bank
sampah, kemudian sampah itu
dipilah-pilah mana yang sampah
kaleng, plastik, kertas atau bekas
makanan atau tumbuhan.
Setelah dipilah sampah akan
ditimbang, misalnya sampah kaleng
dihargai Rp 1.500 per kilogram,
sampah kertas atau plastik Rp 800
per kg.
Masyarakat yang menukar sampah
disini akan diberi semacam buku
tabungan. Semua transaksi akan
dicatat di buku tabungan tersebut.
Misalnya menjual sampah kaleng Rp
5.000, nanti pihak bank sampah akan
menawarkan apakah mau uang kas
langsung atau ditabung.
Jika warga minta uang kas langsung
diberikan uang kas hasil penjualan
sampahnya. Tapi jika ingin ditabung
akan dicatat sebagai saldo.
Kebanyakan warga biasanya akan
menabung dulu uang jual
sampahnya sampai hasilnya lumayan
baru setelah itu diambil.
Selain itu, lanjut Nanang, bank
sampah juga memberikan fasilitas
simpan pinjam maksimal Rp 300 ribu.
Cara pembayaran kreditnya dengan
menyetor sampah hingga nilai
sampahnya melunasi pinjaman
tersebut. Menariknya, fasilitas simpan
pinjam ini tanpa jaminan, tanpa
bunga dan bisa dibayar dengan
sampah.
"Daripada sampah yang ada dibuang,
lebih baik disimpan di bank sampah
dan bisa menghasilkan uang," ujar
Nanang dalam acara Family
Environmental Edutainment di Bumi
Perkemahan Cibubur, Sabtu
(24/7/2010).
Nanang menuturkan tak mudah
untuk mengajak masyarakat agar
mau mengumpulkan sampah yang
ada. Dibutuhkan beberapa
pendekatan pada masyarakat, salah
satunya dengan mengajak
masyarakat melihat secara langsung
bagaimana kerja dari bank sampah.
Sampah yang dikumpulkan bank
sampah ini dimanfaatkan untuk
kompos jika sampah berasal dari
tumbuhan atau sisa makanan dan
dibuat barang lain atau dijadikan
berbagai souvenir.
"Diharapkan ini bisa mengubah pola
pikir masyarakat agar sampah tidak
menjadi sumber bencana dan mulai
menjaga lingkungannya," ujar laki-
laki yang juga menjadi ketua RW di
lingkungan tempat tinggalnya.
Sampai saat ini bank sampah yang
dikelola Nanang sudah punya 500
anggota tetap. Dia berharap model
bank sampah ini bisa diterapkan di
daerah-daerah lain.
seringkali disia-siakan sebagai barang
kotor yang tak berguna. Padahal
sampah yang tidak bernilai itu bisa
menjadi uang dengan cara
ditukarkan di bank sampah seperti
yang didirikan Nanang Suwardi.
Bank sampah yang didirikan Nanang
ini berada di Kampung Beting Indah
Jl. Beting Indah No.2 RT 5/9
Kelurahan Semper Barat Kecamatan
Cilincing Jakarta.
Bank sampah ini bekerja layaknya
seperti bank yang melakukan simpan
pinjam, setoran, penarikan dan
tabungan. Semua transaksi itu bisa
dilakukan asal ada sampahnya.
Di bank sampah ini, masyarakat bisa
menukar sampah rumah tangga atau
sampah lain dengan uang.
Gambarannya seperti ini, masyarakat
datang membawa sampah ke bank
sampah, kemudian sampah itu
dipilah-pilah mana yang sampah
kaleng, plastik, kertas atau bekas
makanan atau tumbuhan.
Setelah dipilah sampah akan
ditimbang, misalnya sampah kaleng
dihargai Rp 1.500 per kilogram,
sampah kertas atau plastik Rp 800
per kg.
Masyarakat yang menukar sampah
disini akan diberi semacam buku
tabungan. Semua transaksi akan
dicatat di buku tabungan tersebut.
Misalnya menjual sampah kaleng Rp
5.000, nanti pihak bank sampah akan
menawarkan apakah mau uang kas
langsung atau ditabung.
Jika warga minta uang kas langsung
diberikan uang kas hasil penjualan
sampahnya. Tapi jika ingin ditabung
akan dicatat sebagai saldo.
Kebanyakan warga biasanya akan
menabung dulu uang jual
sampahnya sampai hasilnya lumayan
baru setelah itu diambil.
Selain itu, lanjut Nanang, bank
sampah juga memberikan fasilitas
simpan pinjam maksimal Rp 300 ribu.
Cara pembayaran kreditnya dengan
menyetor sampah hingga nilai
sampahnya melunasi pinjaman
tersebut. Menariknya, fasilitas simpan
pinjam ini tanpa jaminan, tanpa
bunga dan bisa dibayar dengan
sampah.
"Daripada sampah yang ada dibuang,
lebih baik disimpan di bank sampah
dan bisa menghasilkan uang," ujar
Nanang dalam acara Family
Environmental Edutainment di Bumi
Perkemahan Cibubur, Sabtu
(24/7/2010).
Nanang menuturkan tak mudah
untuk mengajak masyarakat agar
mau mengumpulkan sampah yang
ada. Dibutuhkan beberapa
pendekatan pada masyarakat, salah
satunya dengan mengajak
masyarakat melihat secara langsung
bagaimana kerja dari bank sampah.
Sampah yang dikumpulkan bank
sampah ini dimanfaatkan untuk
kompos jika sampah berasal dari
tumbuhan atau sisa makanan dan
dibuat barang lain atau dijadikan
berbagai souvenir.
"Diharapkan ini bisa mengubah pola
pikir masyarakat agar sampah tidak
menjadi sumber bencana dan mulai
menjaga lingkungannya," ujar laki-
laki yang juga menjadi ketua RW di
lingkungan tempat tinggalnya.
Sampai saat ini bank sampah yang
dikelola Nanang sudah punya 500
anggota tetap. Dia berharap model
bank sampah ini bisa diterapkan di
daerah-daerah lain.





